Sang Ayah dan Sepeda Tua
Sang Ayah dan Sepeda Tua Samsul Maulana Hasanudin Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah hijau, hidup seorang pria bernama Rahman. Setiap pagi, saat kabut masih menyelimuti desa, ia mengayuh sepeda tuanya menuju kota yang berjarak hampir dua jam perjalanan. Di belakang sepedanya, tergantung dua tas besar berisi kue-kue tradisional yang dibuatnya sendiri. Rahman adalah seorang ayah dari dua anak, Dinda dan Rafi, yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Setelah kepergian istrinya tiga tahun lalu karena sakit, Rahman harus mengambil alih semua tanggung jawab keluarga. Ia bekerja siang dan malam, memastikan anak-anaknya tetap bisa bersekolah. Sepeda tua itu adalah satu-satunya alat transportasi yang dimilikinya, peninggalan dari almarhum ayahnya. Hari itu, hujan turun deras sejak pagi. Jalan tanah yang biasa dilalui Rahman berubah menjadi lumpur licin. Namun, ia tetap mengayuh sepedanya dengan hati-hati. Di kepalanya, hanya ada satu pikiran: “Kue-kue ini harus laku, agar Din...