Mengenal Sosok Zainuddin Dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Mengenal Sosok Zainuddin Dalam Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
Samsul Maulana Hasanudin
Sastra diciptakan manusia sekaligus
membicarakan manusia dengan segala problematikanya, baik sebagai individu
maupun sebagai anggota masyarakat untuk dinikmati, dipahami dan dimanfaatkan
oleh masyarakat. Sastra yang lahir di masyarakat akan selalu melibatkan diri
pada masyarakat. Sastra membantu memberikan sumbangan bagi terbentuknya tata
nilai. Sastra sebagai bentuk seni kelahirannya bersumber dari masyarakat dan
kehidupan yang bertata nilai, yang pada gilirannya akan memberikan sumbangan
bagi terbentuknya tata nilai sehingga ada suatu ikatan yang kuat antara cipta
seni (sastra) dengan kehidupan. Pembentukan tata nilai ini akan menambah
kearifan dan kebijakan manusia. Satu diantara karya sastra yang menarik adalah
novel. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, novel adalah tulisan berupa
karangan prosa yang panjang dan menceritakan sebuah kisah.
Novel merupakan teks fiksi yang lahir dari
daya cipta, imajinatif, kreatif, dan eksploratif pengarang untuk menyampaikan
segala kehendak atau segala yang menggejala dalam kesadaran batin pengarang. Berdasarkan
permasalahan tersebut, penulis tertarik untuk melakukan analisis terhadap tokoh
Zainuddin dalam sebuah karya sastra yang berbentuk novel dengan judul
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya HAMKA. Dalam novel tenggelamnya kapal
van der wijck, ada seorang tokoh yang sudah tidak asing lagi dan dikenal oleh
seluruh pembaca yaitu seseorang yang bernama Zainuddin. Cerita singkat tentang
asal mula lahirnya Zainuddin adalah ia seorang anak pendekar Sutan yang
diasingkan ke cilacap, karena membunuh mamaknya dalam suatu perselisihan harta
warisan. Setelah bebas, ayah Zainuddin pergi ke makassar dan di kota ini
menikah dengan daeng Habibah. Dari pernikahan ini lahirlah seorang anak yang
diberi nama Zainuddin. Sesudah orangtuanya wafat, Zainuddin pergi ke suatu
tempat yang bernama Batipuh, di daerah Padang Panjang.
Namun di Batipuh Zainuddin tidak diperlakukan dengan baik karena dianggap bukanlah anak keturunan Minang, meskipun ayahnya memiliki darah Minang, tetapi ayah Zainuddin menikah dengan orang Bugis sehingga putuslah pertalian darah menurut garis matrilinear yang bernasab kepada ibu. Meskipun diperlakukan dengan tidak baik karena dianggap bukan anak Minang, tetapi Zainuddin tetap bertahan dan berusaha untuk bersosialisasi dengan warga sekitar. Dalam hal ini, perjuangan Zainuddin bertahan hidup di Batipuh perlu dijadikan sebuah contoh. Meskipun lingkungan sekitar tidak memperlakukannya secara baik, tapi selama dia tidak melakukan perbuatan yang melanggar aturan agama dan negara ia masih tetap bisa bersosialisasi hidup di Batipuh. Selama Zainuddin hidup di Batipuh, ia bertemu dengan seorang gadis cantik dan baik hati, gadis asli Minang keturunan bangsawan yang bernama Hayati. Zainuddin memiliki perasaan dan menjalin cinta dengan Hayati. Tetapi, hubungan asmara mereka terhalang oleh restu dari orangtua Hayati yang menganggap bahwa Zainuddin bukan anak keturunan Minang dan juga bukan keturunan bangsawan seperti Hayati. Dalam hal ini, perjuangan Zainuddin dalam mendapatkan hati seorang Hayati sangatlah luar biasa, ia rela melakukan apapun dan belajar agama di salah satu pondok pesantren dimana Hayati belajar agama ditempat tersebut.
Meskipun perjuangan Zainuddin terhalang oleh restu dari orangtua Hayati. Dalam cerita di sebutkan bahwa keluarga Hayati memilih Aziz yang merupakan asli Minang serta berasal dari keluarga terpandang. Hayati harus tunduk pada kesepakatan keluarga, meskipun hatinya condong pada Zainuddin. Zainuddin menganggap bahwa Hayati telah berkhianat kepadanya, sehingga Zainuddin merasakan sakit hati yang sangat mendalam kepada Hayati. Dengan membawa perasaan luka Zainuddin pindah ke Surabaya. Nasib Zainuddin di Surabaya berbanding terbalik ketika ia di Batipuh, di Surabaya Zainuddin menjadi orang terkenal dan juga sukses dalam pekerjaannya yang menjadi seorang penulis. Tanpa sengaja dalam suatu acara Zainuddin bertemu dengan Aziz serta istrinya Hayati. Meskipun Zainuddin memiliki perasaan kecewa dan sakit hati yang sangat mendalam terhadap Hayati, tetapi Zainuddin tetap tenang dan berusaha untuk terlihat baik baik saja.
Dalam hal ini kesabaran seorang Zainuddin bisa menjadi sebuah contoh kehidupan, meskipun dihadapkan dengan orang yang membuatnya sakit hati, tetapi Zainuddin tidak memiliki rasa dendam. Justru Zainuddin membuktikan dengan sebuah kesuksesan dan keberhasilan. Terbukti pada saat itu Zainuddin memang menjadi seorang penulis yang sukses, sedangkan Aziz yang dianggap keturunan bangsawan pada saat itu sedang dalam kondisi ekonomi yang terpuruk. Tetapi, Zainuddin tidak menghina dan tidak menertawakan kepada Aziz yang menjadi pilihan dari keluarga Hayati.
Suatu hari, Aziz jatuh miskin dan tidak
memilik tempat tinggal, disitu mereka meminta bantuan kepada Zainuddin untuk
menolong mereka. Zainuddin yang memiliki sikap baik hati mengijinkan mereka
untuk tinggal dirumah Zainuddin yang sangat besar. Karena tidak tahan menahan
penderitaan dan jatuh miskin, Aziz pada akhirnya bunuh diri dan memberikan
pesan kepada Zainuddin untuk menjaga dan melindungi Hayati. Perasaan cinta
Zainuddin yang masih menyala kepada Hayati telah dicoba untuk dipadamkan.
Bahkan ia juga meminta Hayato untuk pulang ke Batipuh, meskipun Hayati tidak
mau di pulangkan ke Batipuh, tetapi Zainuddin tetap memaksa Hayati untuk
pulang. Hayati pulang menggunakan kapal Van Der Wijck, namun nasib buruk
terjadi. Kapal yang ditumpanginya tenggelam di Laut jawa. Zainuddin yang
mendengar berita tersebut segera menuju rumah sakit di daerah Tuban. Zainuddin
bertemu dengan Hayati yang saat itu sudah kritik, Zainuddin memeluk Hayati, dan
Hayati berkata kepada Zainuddin, wahai Zainuddin, sesungguhnya aku tidak berkhianat
kepadamu, orangtuaku yang menjodohkan dengan Aziz, aku berusaha menolak, tetapi
aku disiksa dan terpaksa. Dan aku terancam jika aku tidak mau, engkau akan
dibunuh oleh orang suruhan dari orangtuaku. Mendengar perkataan tersebut,
Zainuddin menangis dan berkata wahai Hayati, akupun sama masih memiliki rasa
untukmu, cepat sembuh, akan ku nikahi engkau, dan akan aku ajak kau pulang
kembali ke Surabaya. Belum sempat menjawab kepada Zainuddin, Hayati sudah pergi
meninggalkan Zainuddin. Zainuddin menangis dan sangat merasa bersalah karena
memaksa Hayati untuk pulang ke Batipuh, padahal Hayati tidak ingin pulang ke
Batipuh.
Tema yang terdapat dalam Novel yang
berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka adalah tentang cinta yang
sejati, tulus dan cinta yang setia antara laki-laki dan perempuan tetapi tidak
dapat dipersatukan dan tak tersampaikan karena tradisi adat Minangkabau yang
begitu mengikat dan terlalu mendiskriminasi adat lainnya pada saat itu.
Nilai
Pendidikan Moral “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya Hamka
1)
Kesetiaan, kejujuran, dan kebenaran akan senantiasa mendapat ujian
2)
Rela berkorban untuk kebahagiaan orang lain
3)
Segala rintangan yang ada harus dijadikan cambuk untuk terus maju
4)
Tiada kesuksesan tanpa perjuangan
5)
Hidup adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan
6) Cinta tidak harus memiliki
7) Kebahagiaan tidak bisa diukur dengan banyak sedikitnya harta
DAFTAR RUJUKAN
HAMKA.
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. (1986). Cetakan keenam belas Jakarta: Bulan
Bintang
BIODATA SINGKAT
Nama Lengkap : Samsul Maulana Hasanudin
Tempat/Tanggal
Lahir : Cianjur, 09 September
1994
Jenis
Kelamin :
Laki-Laki
Pendidikan : S1 Pendidikan
Bahasa Inggris (IKIP SILIWANGI - 2018)
S2 Pendidikan Bahasa Indonesia (IKIP
SILIWANGI)
Minat :
Teknologi Komputer dan Bahasa
Pekerjaan : Guru SMP IT Daarul Fikri Cianjur
*Man jadda wajada*


Komentar
Posting Komentar